AMBON, TOPIKMALUKU | Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Maluku 2026 mulai memanaskan dinamika politik internal partai. Forum lima tahunan yang diproyeksikan menjadi arena pergantian kepemimpinan itu kini ikut menyoroti sejumlah nama, salah satunya Muhamad Thaher Hanubun yang dinilai memiliki rekam jejak panjang di dunia politik dan pemerintahan.
Sejumlah figur disebut masuk dalam pembicaraan bursa calon Ketua DPD Partai Demokrat Maluku, antara lain Muhamad Thaher Hanubun, Asri Arman, dan Halimun Saulatu. Nama-nama tersebut muncul ketika Demokrat Maluku memasuki fase regenerasi kepemimpinan menjelang pelaksanaan Musda pada 2026.
Thaher menjadi salah satu figur yang menarik perhatian karena perjalanan politiknya tidak dibangun secara instan. Kariernya bermula dari dunia pendidikan sebagai guru sebelum berlanjut ke ranah legislatif dan kemudian pemerintahan daerah.
Di bidang legislatif, Thaher pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara periode 2004–2009. Karier politiknya kemudian berlanjut ke DPRD Provinsi Maluku pada periode 2009–2013.
Pengalaman tersebut selanjutnya membawa Thaher ke ranah eksekutif. Ia dipercaya memimpin Kabupaten Maluku Tenggara sebagai bupati selama dua periode, sehingga memiliki pengalaman dalam mengelola pemerintahan, pembangunan, pelayanan publik, serta dinamika sosial masyarakat.
Rekam jejak itu menjadi modal yang dapat diperhitungkan dalam kontestasi internal Demokrat Maluku. Namun, pengalaman sebagai legislator dan kepala daerah tidak otomatis menjadikan seorang kandidat unggul dalam perebutan kursi Ketua DPD karena kepemimpinan pemerintahan memiliki karakter berbeda dengan kepemimpinan organisasi politik.
Ketua DPD Demokrat Maluku membutuhkan kemampuan konsolidasi yang kuat untuk menggerakkan struktur partai hingga tingkat kabupaten dan kota. Tantangan tersebut semakin kompleks karena Maluku memiliki karakter wilayah kepulauan dengan kondisi geografis, sosial, dan politik yang beragam.
Pemimpin Demokrat Maluku nantinya harus mampu membangun komunikasi dengan kader di berbagai daerah, termasuk Buru, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Maluku Tengah, Maluku Tenggara, Kepulauan Tanimbar, Maluku Barat Daya, Kepulauan Aru, Kota Ambon, dan Kota Tual. Dalam konteks ini, pengalaman Thaher sebagai mantan kepala daerah di wilayah kepulauan menjadi salah satu aspek yang relevan untuk diperhitungkan.
Namun, tantangan terbesar bukan sekadar memenangkan forum Musda. Kandidat yang terpilih akan menghadapi pekerjaan organisasi yang jauh lebih panjang, mulai dari memperkuat struktur, menjaga komunikasi antarkader, mengelola perbedaan kepentingan, hingga memastikan mesin partai berjalan efektif menghadapi agenda politik berikutnya.
Musda 2026 juga berlangsung dalam momentum regenerasi setelah Elwen Roy Pattiasina menyatakan tidak lagi mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Demokrat Maluku. Sikap tersebut membuka ruang bagi kader lain untuk menawarkan visi, pola konsolidasi, serta strategi baru bagi masa depan organisasi.
Karena itu, pertarungan Musda idealnya tidak hanya diukur dari kemampuan kandidat menghimpun dukungan pemilik suara. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan membangun organisasi yang solid setelah forum berakhir dan menerjemahkan kemenangan politik menjadi kekuatan kelembagaan partai.
Jika benar maju dalam kontestasi tersebut, Thaher akan diuji bukan hanya oleh peta dukungan internal. Ia juga harus meyakinkan kader bahwa pengalaman panjang sebagai guru, legislator, dan kepala daerah dapat diterjemahkan menjadi kemampuan memimpin serta memperkuat Demokrat Maluku.
Hingga kini, dinamika menuju Musda masih berkembang dan posisi akhir setiap figur dalam kontestasi belum dapat dipastikan hanya berdasarkan nama yang beredar. Konfirmasi langsung dari Muhamad Thaher Hanubun, Asri Arman, Halimun Saulatu, serta pengurus resmi Demokrat Maluku mengenai pencalonan, dukungan, dan strategi masing-masing kandidat belum tercantum dalam bahan yang tersedia.
Pada akhirnya, Musda Demokrat Maluku 2026 akan menjadi ujian bagi seluruh kandidat yang masuk dalam bursa. Pertanyaan utamanya bukan hanya siapa yang mampu memenangkan Musda, melainkan siapa yang mampu membawa Demokrat Maluku menjadi organisasi yang lebih solid, kompetitif, dan efektif setelah kepemimpinan baru terbentuk. (TM-04)
















