Langgur, TopikMaluku | Potensi pisang yang melimpah di Desa Ohoidertom, Kabupaten Maluku Tenggara, didorong untuk tidak lagi berhenti sebagai komoditas konsumsi segar. Melalui program edukasi bertajuk “Nilai Gizi dan Keamanan Pangan dalam Pembuatan Olahan Pisang”, Tim Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Merangkai Kei Universitas Gadjah Mada (UGM) berupaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kandungan gizi pisang, pentingnya penerapan keamanan pangan, serta peluang pengembangan produk olahan bernilai tambah. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (9/7/2026) di Desa Ohoidertom sebagai bagian dari program kerja Klaster Sains dan Teknologi.
Program tersebut lahir dari kondisi riil di lapangan. Desa Ohoidertom memiliki produksi pisang yang relatif melimpah dan mudah dijumpai di lingkungan masyarakat. Namun, pemanfaatannya masih didominasi sebagai buah segar sehingga peluang pengolahan menjadi produk pangan dengan nilai ekonomi lebih tinggi belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, pemahaman masyarakat mengenai kandungan gizi pisang serta penerapan standar keamanan pangan dalam proses pengolahan masih memerlukan penguatan.
Melihat kondisi tersebut, Tim KKN-PPM Merangkai Kei UGM merancang kegiatan edukatif yang tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga memberikan pengalaman praktik secara langsung kepada masyarakat. Pendekatan tersebut dipilih agar peserta mampu memahami hubungan antara kualitas bahan pangan, proses pengolahan yang higienis, serta peluang pengembangan usaha berbasis pangan lokal.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai kandungan gizi pisang yang bermanfaat bagi kesehatan, disertai penjelasan mengenai prinsip-prinsip dasar keamanan pangan. Materi yang disampaikan mencakup pentingnya menjaga kebersihan tangan, sanitasi peralatan, pemilihan bahan baku yang layak, hingga tahapan pengolahan yang aman untuk menghasilkan produk pangan berkualitas.
Setelah sesi edukasi, peserta mengikuti praktik pembuatan berbagai olahan pisang dengan pendampingan langsung dari Tim KKN-PPM Merangkai Kei UGM. Seluruh tahapan, mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan, hingga penyajian produk dilakukan dengan menerapkan prinsip higienitas sebagai bagian dari implementasi materi yang telah disampaikan sebelumnya.
Pendekatan praktik tersebut menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat secara aplikatif. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai manfaat gizi pisang, tetapi juga mempelajari teknik pengolahan yang dapat menjaga mutu produk sekaligus meningkatkan nilai jual apabila dikembangkan sebagai usaha rumah tangga.
Pembicara dalam kegiatan, Fayyaza Nazli, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa potensi pangan lokal dapat memberikan manfaat yang lebih besar apabila diolah dengan memperhatikan aspek gizi dan keamanan pangan.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui manfaat gizi yang terkandung dalam pisang, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan selama proses pengolahan agar menghasilkan produk yang berkualitas, aman dikonsumsi, dan memiliki nilai jual yang lebih baik,” kata Fayyaza Nazli.
Ia juga menekankan bahwa keamanan pangan bukan sekadar prosedur teknis dalam memasak, melainkan menjadi faktor utama yang menentukan kualitas produk sekaligus tingkat kepercayaan konsumen terhadap pangan olahan.
“Pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan usaha berbasis pangan lokal sehingga masyarakat semakin terdorong mengembangkan inovasi olahan pisang yang bergizi, aman dikonsumsi, dan memiliki nilai tambah ekonomi,” kata Fayyaza Nazli.
Pelaksanaan program berlangsung melalui koordinasi dengan perangkat Desa Ohoidertom yang memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan, mulai dari penyediaan lokasi hingga koordinasi peserta. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan program pemberdayaan dapat berjalan efektif dan menjangkau masyarakat secara langsung.
Antusiasme masyarakat terlihat selama kegiatan berlangsung, khususnya pada sesi praktik. Peserta aktif berdiskusi mengenai kandungan gizi pisang, teknik menjaga kebersihan selama proses produksi, serta peluang pengembangan produk olahan berbahan baku pisang sebagai sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Interaksi tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memanfaatkan sumber daya lokal secara lebih produktif. Edukasi yang diberikan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas konsumsi pangan rumah tangga, tetapi juga membuka wawasan mengenai potensi ekonomi yang dapat dihasilkan melalui diversifikasi produk berbasis komoditas lokal.
Program ini sekaligus memperlihatkan pendekatan pemberdayaan yang dikembangkan Tim KKN-PPM Merangkai Kei UGM, yakni menghubungkan aspek kesehatan masyarakat dengan penguatan ekonomi lokal melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di desa. Dengan demikian, edukasi tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan menjadi langkah awal untuk membangun kapasitas masyarakat dalam menghasilkan produk pangan yang aman, berkualitas, dan memiliki daya saing.
Ke depan, keberlanjutan penerapan prinsip keamanan pangan dan inovasi olahan pisang diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal Desa Ohoidertom. Selain memperkuat ketahanan pangan keluarga, pengembangan produk olahan berbasis pisang juga berpotensi menjadi salah satu alternatif usaha mikro yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. (TM)











