AMBON, Topik Maluku – Kemarau panjang mulai menggerus ketersediaan air bersih di Kota Ambon. Debit sejumlah sumber air yang selama ini menjadi andalan PT Dream Sukses Airindo (DSA) turun hingga sekitar 40 persen.
Di tengah tekanan tersebut, DSA harus memutar strategi agar penurunan debit tidak berujung pada terhentinya pasokan air kepada masyarakat.
Direktur PT DSA, Jefry Riry, SH, mengakui kondisi sumber air saat ini semakin tertekan akibat kemarau berkepanjangan.
“Penurunan debit air itu kurang lebih 40 persen terjadi. Tetapi kami masih melakukan suplai kepada masyarakat,” ujar Jefry.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pola distribusi air tidak bisa lagi dilakukan seperti dalam kondisi normal. DSA harus melakukan pemerataan suplai agar pelanggan di berbagai wilayah tetap mendapatkan air.
Salah satu strategi yang dilakukan yakni mengoptimalkan sumur air tanah sebagai sumber penyangga. Air dari sumur tersebut dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pelanggan, termasuk di kawasan Karang Panjang.
Namun, air tanah tersebut tidak langsung dialirkan ke jaringan pelanggan.
Air terlebih dahulu ditampung di reservoir sebelum kemudian dipompa kembali menuju jaringan distribusi.
“Di Aster, depan MCM, air dari sumur tanah itu kita masukkan ke reservoir terlebih dahulu. Setelah itu baru disuplai kembali ke masyarakat menggunakan pompa,” jelasnya.
Jefry memastikan air dari sumur tersebut tetap melalui proses pengolahan sebelum didistribusikan kepada pelanggan.
Ia juga memastikan kondisi sumur yang menjadi penyangga pelayanan saat ini masih mampu mendukung kebutuhan distribusi.
“Dengan kondisi sumber air yang ada saat ini, kami masih bisa bertahan. Debit sumur air tanah kita masih cukup,” tegasnya.
Ambon Bukan Kota yang Mudah Disuplai Air
Tantangan distribusi air di Ambon ternyata bukan hanya soal berkurangnya debit akibat kemarau.
Kontur Kota Ambon yang berbukit membuat distribusi air ke sejumlah kawasan membutuhkan pengaturan tekanan, pompa dan reservoir yang lebih kompleks.
Karang Panjang, Galunggung, Kebun Cengkeh, Gunung Malintang hingga Batu Merah memiliki karakter geografis yang berbeda dengan kawasan dataran rendah.
“DSA punya wilayah suplai yang cukup sulit karena bukan hanya daerah dataran rendah. Kondisi alam Kota Ambon naik turun, banyak wilayah berada di ketinggian,” ungkap Jefry.
Kondisi geografis tersebut membuat penurunan debit sumber air menjadi persoalan serius. Sebab, air tidak hanya harus tersedia, tetapi juga harus memiliki tekanan yang cukup untuk menjangkau pelanggan di kawasan yang lebih tinggi.
Di sisi lain, kebutuhan air di Ambon terus meningkat.
Kecamatan Sirimau menjadi salah satu wilayah dengan tekanan kebutuhan tinggi karena menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Arus masyarakat dari berbagai kabupaten/kota di Maluku yang datang untuk bersekolah maupun mencari pekerjaan ikut meningkatkan kebutuhan air bersih.
“Ambon ini kota pendidikan. Orang dari kabupaten dan kota lain datang ke Ambon. Orang juga mencari kerja di Ambon. Akibatnya kepadatan penduduk menjadi besar dan kebutuhan air otomatis meningkat,” katanya.
Bukan Sekadar Cari Air, DSA Mulai Jaga Sumbernya
Jefry menilai persoalan air di Ambon tidak cukup hanya diselesaikan dari sisi distribusi.
Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah menjaga keberadaan sumber air itu sendiri. Sebab, jaringan perpipaan, pompa maupun teknologi tidak akan banyak berarti apabila sumber air terus kehilangan daya dukung.
Karena itu, DSA mulai mendorong upaya penghijauan di sekitar kawasan sumber air.
Pada 29 Agustus 2026, perusahaan melakukan penanaman sejumlah pohon, di antaranya sukun dan ganemo.
Jefry menegaskan penghijauan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Kami selama ini mengambil air dari alam. Karena itu, bagaimana kita juga mengembalikan alam tersebut. Jangan sampai kita hanya mengambil, tetapi tidak mengembalikan,” ujarnya.
Menurutnya, menjaga kawasan sumber air sama pentingnya dengan merawat mesin, pompa maupun jaringan perpipaan.
“Beta melihat bukan hanya kondisi hari ini, tetapi bagaimana anak cucu kita ke depan. Supaya Kota Ambon masih mempunyai sumber air yang bagus,” katanya.
Masyarakat Diminta Hemat Air
Di tengah kondisi debit sumber air yang merosot hingga 40 persen, DSA juga meminta masyarakat ikut menjaga ketersediaan air.
Pelanggan diminta menggunakan air sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pemborosan.
“Beta tidak melarang masyarakat menggunakan air. Tetapi gunakan secara bijak. Jangan buang-buang air,” tegas Jefry.
Ia juga meminta masyarakat memahami apabila dalam kondisi tertentu waktu distribusi menjadi lebih panjang.
Menurutnya, penyesuaian jadwal distribusi bukan berarti perusahaan sengaja mengurangi pelayanan, melainkan sebagai dampak dari kondisi sumber air.
“Yang terjadi sekarang memang karena kondisi alam,” katanya.
Meski sumber air utama mengalami tekanan, Jefry memastikan infrastruktur pelayanan tetap dipersiapkan.
Mesin, pompa suplai, pompa distribusi hingga pompa cadangan disebut dalam kondisi siap digunakan.
“Mesin ada, teknologi ada, pompa backup ada, pompa suplai dan pompa distribusi semuanya siap. Untuk perpipaan juga aman,” pungkasnya.
Bagi DSA, tantangan kemarau kali ini bukan hanya memastikan air tetap mengalir hari ini. Lebih dari itu, bagaimana sumber air Kota Ambon tetap terjaga agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga generasi mendatang.













