Topik Maluku.com, AMBON– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Maluku Tengah dan Seram Bagian Timur (SBT) disorot karena tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam sumber penghidupan masyarakat.
Ketua Komisi III DPRD Maluku dari Fraksi PDI Perjuangan, Alhidayat Wajo, menegaskan kawasan yang terbakar tidak bisa semata-mata dipandang sebagai hutan kosong. Menurut dia, terdapat kebun pala dan cengkeh milik masyarakat yang menjadi sumber ekonomi keluarga petani.
“Hutan di Maluku Tengah dan SBT bukan hutan kosong. Ini kebun cengkeh dan pala milik rakyat,” kata Alhidayat.
Dia mengatakan tanaman pala dan cengkeh merupakan investasi jangka panjang bagi masyarakat. Tanaman tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga menghasilkan buah, sehingga kebakaran dapat menghilangkan sumber pendapatan petani dalam waktu singkat.
“Setiap pohon pala dan cengkeh adalah investasi jangka panjang bagi rakyat. Namun saat api melalap dalam hitungan jam, semua itu hilang,” ujarnya.
Menurut Alhidayat, kerugian masyarakat bukan hanya berupa tanaman yang terbakar. Petani juga kehilangan hasil kebun, sumber penghidupan keluarga, hingga harapan ekonomi untuk beberapa tahun ke depan.
“Satu pohon pala 10 tahun baru berbuah, terbakar satu jam habis,” tegasnya.
Dia meminta pemerintah tidak hanya melihat persoalan kebakaran dari sisi kerusakan lingkungan, tetapi juga memperhatikan masyarakat yang terdampak langsung.
Alhidayat menilai pemerintah perlu hadir bersama masyarakat untuk menangani kebakaran dan memberikan perhatian terhadap kerugian yang dialami petani.
“Kalau pemerintah tidak turun, rakyat akan berpikir, pemerintah hanya datang kalau mau pajak pala, tapi tidak datang kalau kebun pala terbakar,” katanya.
Dia menegaskan suara masyarakat dan petani harus menjadi perhatian pemerintah dalam penanganan kebakaran yang terjadi di wilayah Maluku.
“Suara rakyat harus didengar,” pungkas Alhidayat.(TM-03)













