Ambon Topik Maluku ; Polemik antara pengawal Gubernur Maluku dan mahasiswa asal Seram Utara yang meletup saat momentum 17 Agustus kini mulai memasuki babak baru.
Setelah sempat memanas hingga menyeret nama Ketua Adat, para raja dari Negeri-Negeri Seram Utara memilih menurunkan tensi dan membuka jalan damai melalui pendekatan kekeluargaan.
Raja Negeri Manusela, Marxion Eyale, bahkan memastikan pihaknya telah lebih dulu mengambil langkah dengan menyampaikan permohonan maaf.
Bukan hanya pemerintah negeri, para raja juga telah melakukan hal serupa sebagai bentuk keseriusan untuk mengakhiri polemik.
“Sebagai pemerintah negeri, kami sudah menyampaikan permohonan maaf kepada beliau. Semua raja-raja juga telah menyampaikan permohonan maaf karena adanya pengaduan yang sebelumnya dibuka terkait persoalan tersebut,” kata Marxion kepada wartawan seusai bertemu Gubernur Maluku, Jumat (28/8/2026).
Tak Ingin Polemik Terus Membesar
Marxion menegaskan, persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Menurutnya, penyelesaian secara kekeluargaan menjadi pilihan paling tepat agar polemik tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar dan mengganggu hubungan antara masyarakat, mahasiswa, para raja, maupun Pemerintah Provinsi Maluku.
Komunikasi dengan mahasiswa di wilayah Seram Utara pun telah dilakukan.
Para mahasiswa, kata dia, diajak melihat persoalan tersebut secara lebih luas dan bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif.
“Kami sudah melakukan komunikasi dengan mahasiswa yang ada di daerah agar kita bersama-sama mendukung program pemerintah, termasuk program Pemerintah Provinsi Maluku di bawah kepemimpinan Gubernur,” ujarnya.
Raja Dorong Pertemuan Langsung
Namun, bagi Marxion, meminta maaf saja belum cukup.
Para raja kini mendorong agar seluruh pihak yang terlibat duduk satu meja, termasuk pihak yang berselisih dengan pengawal Gubernur Maluku.
Pertemuan langsung itu diharapkan menjadi momentum untuk membuka komunikasi, meluruskan kesalahpahaman dan mengakhiri persoalan yang sempat menjadi perhatian publik.
“Mudah-mudahan persoalan ini dapat diterima dengan baik oleh kedua belah pihak, sehingga bisa saling memaafkan dan menyelesaikan semuanya dengan baik,” katanya.
Marxion menegaskan masyarakat Seram Utara tidak boleh terjebak dalam polemik yang justru dapat merusak hubungan baik dengan Pemerintah Provinsi Maluku.
Ia memilih mengedepankan kepala dingin, komunikasi dan persaudaraan.
“Yang terpenting adalah komunikasi dan saling memaafkan, sehingga tidak ada lagi persoalan yang berkembang di kemudian hari,” tegas Marxion.
Kini, setelah permohonan maaf disampaikan, para raja berharap tidak ada lagi pihak yang mempertahankan bara konflik.
Pesannya jelas: persoalan 17 Agustus harus ditutup dengan duduk bersama, saling memaafkan dan kembali membangun persaudaraan.















