TANIWEL-SBB, TOPIKMALUKU – Sebanyak 29 rumah warga Desa Patahuwe, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), hangus terbakar dalam konflik yang terjadi antara warga Desa Patahuwe dan Desa Lisabata. Akibatnya, warga terdampak bukan hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan berbagai perlengkapan rumah tangga dan kebutuhan dasar untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Di tengah kondisi para korban yang masih bertahan di tempat pengungsian, perhatian terhadap nasib warga kembali datang dari jajaran DPC PDI Perjuangan Kabupaten Seram Bagian Barat.
Pada Rabu, 16 September 2026, jajaran DPC PDI Perjuangan SBB turun langsung menemui masyarakat terdampak di Gedung Pertemuan Desa Taniwel sekaligus menyerahkan bantuan kebutuhan pokok dan perlengkapan sehari-hari bagi para pengungsi.
Rombongan dipimpin langsung Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten SBB, Zeth Marayate, S.Sos, didampingi Sekretaris DPC PDI Perjuangan, Hi. La Nyong, serta Ketua Tim Pemenangan DPC PDI Perjuangan sekaligus Ketua Komisi I DPRD Kabupaten SBB, Fredy Pentury, S.Sos.
Bantuan yang disalurkan meliputi pakaian layak pakai, pakaian dalam pria dan wanita, perlengkapan makan dan minum, bumbu masak, makanan siap saji, air mineral, serta berbagai perlengkapan memasak lainnya.
Bantuan tersebut diserahkan kepada Plt. Camat Taniwel, Jeackline Niwele, S.E., bersama perwakilan Desa Patahuwe, untuk selanjutnya diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bukan Sekadar Bantuan, Tapi Menyentuh Langsung Nasib Pengungsi
Kehadiran jajaran PDI Perjuangan mendapat apresiasi dari pihak penerima bantuan. Pasalnya, bantuan diberikan secara langsung kepada masyarakat yang saat ini berada dalam kondisi sulit setelah kehilangan rumah dan barang-barang kebutuhan rumah tangga akibat kebakaran.
Bagi para pengungsi, kebutuhan seperti makanan, air mineral, pakaian, perlengkapan makan, hingga peralatan memasak bukan sekadar bantuan biasa. Barang-barang tersebut merupakan kebutuhan mendasar yang diperlukan selama mereka belum dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Ketua DPC PDI Perjuangan SBB, Zeth Marayate, S.Sos, mengatakan kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan agar jajaran partai turun ke lapangan dan melihat secara langsung kondisi masyarakat yang terdampak konflik.
Menurut Marayate, bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang saat ini berada di tempat pengungsian.
“Kita berharap bantuan yang diberikan dapat berguna dan bermanfaat bagi para pengungsi yang membutuhkan,” ujar Marayate.
Namun, Marayate juga mengingatkan seluruh masyarakat agar tidak mudah terpancing berbagai isu yang berkembang pascakonflik.
Ia meminta masyarakat menjaga ketenangan dan menyerahkan proses penanganan keamanan serta hukum kepada aparat yang berwenang.
“Kita serahkan saja semua kepada yang berwajib, dalam hal ini kepada kepolisian dan TNI yang bertugas, untuk bisa menciptakan rasa aman bagi seluruh warga masyarakat, lebih khusus kepada kedua desa yang bertikai,” tegasnya.
Fredy Pentury: Jangan Biarkan Warga Hidup Berlarut-Larut di Pengungsian
Sementara itu, Fredy Pentury, S.Sos, menegaskan bahwa persoalan pascakonflik tidak boleh berhenti hanya pada penanganan keamanan.
Menurutnya, setelah situasi keamanan dapat dikendalikan, perhatian berikutnya harus diarahkan pada pemulihan kehidupan masyarakat, termasuk memastikan warga yang kehilangan rumah mendapatkan kembali tempat tinggal yang layak.
Sebagai Ketua Komisi I DPRD Kabupaten SBB, Pentury menyatakan akan terus mendukung langkah pemerintah daerah dalam upaya menciptakan perdamaian antara masyarakat Desa Patahuwe dan Desa Lisabata.
Ia mengatakan bahwa sejak awal kejadian, dirinya bersama pemerintah daerah telah berupaya hadir untuk mendorong terciptanya suasana damai di tengah masyarakat.
“Kita harus mendorong agar suasana kembali aman dan masyarakat dapat menjalani kehidupan secara normal,” ujarnya.
Pentury juga meminta aparat penegak hukum memproses pihak-pihak yang diduga terlibat dalam tindak pidana pada insiden tersebut sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Menurutnya, proses hukum diperlukan agar setiap dugaan tindak pidana dapat ditangani secara profesional dan memberikan kepastian hukum.
Ia juga mengingatkan agar tindakan kekerasan dan main hakim sendiri tidak kembali terjadi.
29 Rumah Terbakar, Pembangunan Kembali Jangan Menunggu Terlalu Lama
Salah satu persoalan paling mendesak yang kini dihadapi masyarakat Patahuwe adalah nasib 29 rumah warga yang terbakar.
Pentury menegaskan, persoalan pembangunan kembali rumah warga tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Menurutnya, masyarakat yang kehilangan tempat tinggal membutuhkan kepastian agar dapat kembali membangun kehidupan bersama keluarga mereka.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat segera melakukan langkah konkret untuk memastikan proses pemulihan dan pembangunan kembali rumah warga yang terbakar dapat dilakukan.
Pentury menyinggung pengalaman penanganan pascakonflik di sejumlah wilayah Maluku, termasuk Desa Kariu di Pulau Haruku, yang menurutnya menunjukkan bahwa persoalan pembangunan rumah pascakonflik dapat menjadi panjang apabila tidak ditangani secara serius sejak awal.
Karena itu, ia meminta agar persoalan warga Patahuwe tidak mengalami kondisi serupa.
“Jangan sampai masyarakat terlalu lama hidup dalam ketidakpastian. Rumah yang terbakar harus menjadi perhatian serius dalam proses pemulihan pascakonflik,” tegasnya.
Pemulihan Tak Cukup dengan Bantuan Sembako
Bantuan kebutuhan pokok yang diberikan PDI Perjuangan menjadi bagian penting dalam kondisi darurat yang sedang dihadapi para pengungsi.
Namun, kebutuhan masyarakat terdampak tentu tidak berhenti pada makanan, pakaian, air mineral, dan perlengkapan memasak.
Ada 29 rumah yang harus dipulihkan. Ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Ada perlengkapan rumah tangga yang terbakar. Dan ada masyarakat yang membutuhkan kepastian tentang masa depan tempat tinggal mereka.
Karena itu, perhatian pascakonflik di Kecamatan Taniwel membutuhkan kerja bersama antara Pemerintah Daerah, DPRD, TNI-Polri, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat.
Selain menjaga keamanan, pemerintah juga dituntut memastikan proses pemulihan berjalan secara terarah sehingga warga terdampak dapat kembali menjalani kehidupan yang aman dan layak.
Bagi PDI Perjuangan SBB, kunjungan tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
Sementara bagi warga terdampak, bantuan tersebut setidaknya menjadi penguat bahwa kondisi mereka masih mendapat perhatian.
Kini, setelah bantuan darurat mulai mengalir, tantangan berikutnya adalah memastikan 29 keluarga yang kehilangan rumah tidak kehilangan harapan untuk kembali memiliki tempat tinggal yang layak. (TM-06)












