TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMalukuTopikMaluku

Musda Demokrat Maluku Memanas! Nama Thaher Hanubun Menguat, Perebutan Kursi Ketua Mulai Sengit

AMBON, Topik Maluku — Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Maluku yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 mulai memanaskan suhu politik internal partai.
Forum lima tahunan tersebut diperkirakan tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi pertarungan strategis untuk menentukan arah Partai Demokrat di Maluku menjelang menghadapi dinamika politik berikutnya.
Sejumlah nama mulai diperbincangkan dalam bursa calon Ketua DPD Partai Demokrat Maluku. Di antaranya Muhamad Thaher Hanubun, Asri Arman, dan Halimun Saulatu.
Dari nama-nama tersebut, sosok Muhamad Thaher Hanubun menjadi salah satu figur yang cukup menarik perhatian.
Bukan tanpa alasan. Thaher memiliki perjalanan politik yang panjang, mulai dari dunia pendidikan, legislatif hingga pemerintahan daerah.
Pengalaman tersebut membuat namanya dinilai layak diperhitungkan apabila benar-benar masuk dalam kontestasi perebutan kursi Ketua DPD Demokrat Maluku.
Thaher bukan figur yang muncul secara tiba-tiba dari panggung politik.
Kariernya berawal dari dunia pendidikan. Pengalaman sebagai guru menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian membentuk karakter kepemimpinannya sekaligus mempertemukannya dengan berbagai persoalan sosial masyarakat.
Dari dunia pendidikan, langkah politik Thaher kemudian semakin kuat.
Ia pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara periode 2004–2009. Karier legislatifnya berlanjut di DPRD Provinsi Maluku pada periode 2009–2013.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke panggung eksekutif. Thaher dipercaya memimpin Kabupaten Maluku Tenggara selama dua periode sebagai bupati.
Rekam jejak tersebut tentu menjadi modal politik yang tidak kecil.
Sebagai legislator, ia memiliki pengalaman memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui lembaga politik. Sementara sebagai kepala daerah, ia pernah berhadapan langsung dengan persoalan pemerintahan, pembangunan, pelayanan publik hingga dinamika sosial masyarakat.
Namun, pengalaman panjang di pemerintahan bukan berarti tiket otomatis menuju kursi Ketua DPD Demokrat Maluku.
Sebab, memimpin pemerintahan dan memimpin partai politik merupakan dua arena yang berbeda.
Di pemerintahan, kepemimpinan berjalan melalui struktur kewenangan dan regulasi formal. Sementara di partai politik, seorang ketua harus mampu membangun kepercayaan, menjaga loyalitas kader, mengelola perbedaan kepentingan, membaca peta politik dan menggerakkan seluruh mesin organisasi.
Di titik inilah kemampuan Thaher akan benar-benar diuji apabila dirinya maju dalam Musda.
Demokrat Butuh Ketua yang Bisa Konsolidasi
Demokrat Maluku membutuhkan sosok ketua yang bukan hanya kuat secara personal, tetapi juga mampu mengonsolidasikan struktur partai hingga tingkat kabupaten dan kota.
Tantangannya tidak sederhana.
Maluku merupakan provinsi kepulauan dengan karakter sosial, geografis dan politik yang sangat beragam. Jarak antardaerah menjadi tantangan tersendiri dalam membangun komunikasi serta konsolidasi organisasi.
Ketua DPD Demokrat Maluku nantinya dituntut mampu menjadi jembatan kepentingan kader di berbagai wilayah, mulai dari Buru, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Maluku Tengah, Maluku Tenggara, Kepulauan Tanimbar, Maluku Barat Daya, Kepulauan Aru, Kota Ambon hingga Kota Tual.
Dalam konteks itulah pengalaman Thaher sebagai mantan kepala daerah di wilayah kepulauan menjadi salah satu modal yang patut diperhitungkan.
Namun sekali lagi, pengalaman saja tidak cukup.
Yang akan menjadi pertanyaan besar adalah apakah pengalaman tersebut mampu diterjemahkan menjadi kekuatan organisasi.
Regenerasi Mulai Dibuka
Musda Demokrat Maluku 2026 juga memiliki arti penting karena berlangsung dalam momentum regenerasi kepemimpinan.
Elwen Roy Pattiasina sebelumnya telah menyatakan tidak lagi mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Demokrat Maluku pada 2026 dan berharap muncul kader yang mampu meneruskan estafet kepemimpinan partai.
Pernyataan tersebut membuka ruang bagi munculnya figur-figur baru dengan latar belakang, pengalaman dan strategi politik yang berbeda.
Regenerasi pun tidak selalu berarti menghadirkan sosok yang paling muda.
Regenerasi juga dapat berarti menghadirkan energi baru, pola komunikasi baru, gagasan baru dan strategi baru untuk memperkuat partai.
Karena itu, munculnya sejumlah nama dalam bursa Musda merupakan bagian dari dinamika demokrasi internal partai.
Tetapi pertarungan idealnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang paling banyak mengumpulkan dukungan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: siapa yang memiliki gagasan paling jelas untuk membawa Demokrat Maluku menjadi partai yang lebih solid, kompetitif dan dekat dengan masyarakat?
Menang Musda Bukan Akhir Pertarungan
Kursi Ketua DPD bukan sekadar soal memenangkan Musda.
Kemenangan mungkin hanya berlangsung dalam satu forum. Setelah itu, pemenang akan menghadapi pekerjaan yang jauh lebih berat: membangun dan menghidupkan organisasi.
Seorang ketua harus turun ke struktur, mendengar aspirasi kader, membangun komunikasi lintas daerah, meredam konflik internal dan memastikan mesin partai bekerja jauh sebelum tahapan pemilu dimulai.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang kandidat bukan hanya berapa banyak dukungan yang berhasil dihimpun menjelang Musda.
Ukuran sebenarnya adalah seberapa kuat organisasi yang mampu dibangun setelah Musda selesai.
Dalam konteks tersebut, Thaher Hanubun memiliki alasan untuk diperhitungkan.
Perjalanan dari guru, legislator hingga kepala daerah menunjukkan pengalaman kepemimpinan yang panjang.
Tetapi pengalaman itu harus diuji dalam arena yang berbeda: memimpin partai politik.
Jika benar maju dalam perebutan kursi Ketua DPD Demokrat Maluku, tantangan Thaher bukan hanya mengamankan dukungan pemilik suara.
Lebih dari itu, ia harus mampu meyakinkan kader bahwa pengalaman panjangnya dapat dikonversi menjadi kekuatan organisasi.
Ia harus menawarkan visi yang jelas, membangun konsolidasi lintas wilayah, merangkul perbedaan dan menyusun strategi realistis untuk membesarkan Demokrat di seluruh Maluku.
Oktober Jadi Titik Penentu?
Dengan Musda yang diproyeksikan berlangsung pada Oktober 2026, dinamika menuju perebutan kursi Ketua DPD Demokrat Maluku dipastikan menarik untuk dicermati.
Nama Thaher Hanubun kini menjadi salah satu figur yang sulit diabaikan dalam pembicaraan bursa tersebut.
Bukan semata karena pernah menjadi bupati dua periode, tetapi karena perjalanan politiknya telah melewati sejumlah ruang kepemimpinan—dari dunia pendidikan, legislatif hingga pemerintahan daerah.
Namun, pertanyaan terbesarnya kini bukan lagi soal seberapa panjang rekam jejak Thaher.
Mampukah pengalaman panjang tersebut dikonversi menjadi kekuatan untuk menyatukan dan menggerakkan Demokrat Maluku?
Jawabannya akan sangat bergantung pada visi, kemampuan konsolidasi, dukungan kader serta strategi yang ditawarkan.
Sebab pada akhirnya, Demokrat Maluku tidak sekadar membutuhkan pemenang Musda.
Demokrat membutuhkan pemimpin yang mampu membuat partai lebih kuat setelah Musda berakhir.

📢 Ikuti TOPIKMALUKU.COM untuk dapatkan berita terbaru
⚠️ DISCLAIMER: Konten TOPIKMALUKU.COM dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip, menyalin, memuat ulang sebagian atau seluruh isi artikel ini dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari redaksi TOPIKMALUKU.COM.
TopikMaluku

Hak Cipta TopikMaluku. Dilindungi undang-undang.

error: Konten Dilindungi !