TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMalukuTopikMalukuTopikMaluku

Pelatihan Project Multatuli dan Yayasan Ipas di Ambon, Jurnalis Didorong Utamakan Perspektif Korban Kekerasan Seksual

Topik Maluku.com, AMBON-Project Multatuli bekerja sama dengan Yayasan IPAS menyelenggarakan pelatihan jurnalistik bertajuk “Suara untuk Korban. Penguatan Jurnalis untuk Meliput Kekerasan Berbasis Gender & Seksual” pada 23–25 Februari 2026 di Swiss-Belhotel Ambon.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas jurnalis dan pers mahasiswa agar mampu meliput isu kekerasan berbasis gender dan seksual secara sensitif, berperspektif korban, dan bertanggung jawab. Pelatihan tersebut diikuti sejumlah jurnalis media lokal serta anggota pers mahasiswa dari berbagai organisasi di Maluku.

Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi mulai dari pemahaman dasar tentang kekerasan berbasis gender dan seksual, teknik peliputan, praktik penulisan berita, hingga sesi coaching clinic.

Perwakilan Project Multatuli dalam pembukaan kegiatan mengatakan, media memiliki peran penting dalam membentuk cara publik memahami kasus kekerasan seksual. Namun, dalam praktiknya, pemberitaan masih kerap mengandung bias, membuka identitas korban, atau menggunakan diksi yang berpotensi menyudutkan korban.

“Jurnalis bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga harus memastikan pemberitaan tidak memperburuk trauma korban. Perspektif korban penting agar media tidak ikut mereproduksi kekerasan,” kata Rere, dan Permata Adinda dalam sesi diskusi, Pada Senin, 23 Februari 2026.

Menurut dia, pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong jurnalisme yang beretika, khususnya dalam isu kekerasan berbasis gender yang selama ini masih dianggap sensitif dan sering disalahpahami.

Perwakilan Yayasan IPAS juga turut menyampaikan, pendekatan pemberitaan yang sensitif korban merupakan bagian dari perlindungan terhadap penyintas. Ia menilai, media dapat berkontribusi dalam mendorong keadilan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak negatif jika tidak berhati-hati.

“Media bisa membantu korban bersuara, tetapi juga bisa melukai kembali jika identitas dibuka atau narasi yang digunakan menyalahkan korban,” ujarnya.

Dalam sesi materi, peserta diajak memahami konsep kekerasan berbasis gender dan seksual, termasuk berbagai bentuknya, relasi kuasa, serta dampak psikologis yang dialami korban. Peserta juga dilatih menyusun berita dengan pendekatan yang tidak sensasional serta menghindari stereotip.

Salah satu peserta, Jurnalis media lokal di Ambon, mengatakan pelatihan tersebut membantu dia memahami kesalahan yang sering terjadi dalam praktik jurnalistik sehari-hari dalam meliput kasus kekerasan berbasis Gender dan Seksual.

“Selama ini mungkin tanpa sadar kami menggunakan kata-kata yang kurang tepat atau terlalu fokus pada kronologi tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi korban. Pelatihan ini membuka perspektif baru,” katanya.

Adapun juga peserta lain dari pers mahasiswa menilai materi yang diberikan relevan dengan kondisi di daerah, di mana kasus kekerasan seksual masih sering terjadi tetapi tidak semua diliput secara tepat.Ia mengatakan, jurnalis kampus memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga etika peliputan.

“Kami belajar bagaimana menulis tanpa menghakimi korban, menjaga identitas, dan memastikan berita memberi dampak positif,” ujarnya.

Meski demikian, sejumlah peserta juga menyoroti tantangan yang dihadapi jurnalis di lapangan, termasuk keterbatasan akses informasi, tekanan redaksi, serta tuntutan kecepatan publikasi yang kadang membuat proses verifikasi dan pertimbangan etika tidak maksimal.

Menanggapi hal itu, fasilitator pelatihan menekankan pentingnya komitmen redaksi dalam mendukung jurnalisme yang berperspektif korban. Ia mengatakan perubahan tidak hanya bergantung pada individu jurnalis, tetapi juga pada kebijakan media secara keseluruhan.

“Jurnalisme yang etis membutuhkan dukungan sistem, bukan hanya kesadaran individu,” kata dia.

Project Multatuli dan Yayasan IPAS berharap pelatihan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat kualitas pemberitaan di Maluku, khususnya dalam isu kekerasan berbasis gender dan seksual.

Mereka juga mendorong peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam praktik jurnalistik sehari-hari, serta menjadi agen perubahan di ruang redaksi masing-masing.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk membangun ekosistem media yang lebih adil bagi korban, sekaligus memastikan fungsi pers sebagai penyampai informasi tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan.(TM-03)

Artikel ini disusun selama sesi pembelajaran oleh Jurnalis TopikMaluku.com. Pembaca Tetaplah bersama kami  TopikMalukum.com, agar selalu mendapatkan informasi Seputaran Maluku hingga Skala Nasional.


Follow TOPIKMALUKU.COM untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Chennel
TopikMaluku

Hak Cipta TopikMaluku. Dilindungi undang-undang.

error: Konten Dilindungi !