Topik Maluku.com, BURU- Pulau Buru kembali menjadi sorotan lewat gagasan kreatif generasi muda. Seorang perempuan asal Namlea, Putri Nabila, dan juga Firman Gazali Djunaidi Seorang Dosen di Kampus Iqra Buru serta penggagas Seniman. kini mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama Iqra Buru sameramaikan festival budaya bertajuk “Suara yang Disembunyikan”, sebuah festival teater ruang publik berbasis arsip ingatan pendudukan Jepang di Pulau Buru.
Melalui program tersebut, Putri ingin menghidupkan kembali ruang-ruang sejarah yang selama ini perlahan terlupakan oleh generasi muda.
Dalam pernyataannya, Putri menyoroti sejarah kelam masa pendudukan Jepang, termasuk kisah perempuan korban perang atau Jugun Ianfu yang jejak ceritanya disebut masih tersimpan dalam ingatan masyarakat Pulau Buru, khususnya di wilayah Namlea.
“Masih ada bunker-bunker tua, bekas landasan perang, dan cerita tentang masyarakat yang bertahan hidup di masa perang. Bahkan ada perempuan-perempuan yang disembunyikan keluarganya karena takut menjadi korban perang,” ujar Putri Dalam Videonya yang di unggah pada, Rabu (13/05/26).
Menurutnya, banyak generasi muda di Pulau Buru yang setiap hari melewati situs-situs sejarah tersebut tanpa mengetahui kisah besar di baliknya.
Karena itu, melalui festival “Suara yang Disembunyikan”, ia ingin menjadikan ruang sejarah sebagai ruang budaya publik yang hidup dan dekat dengan masyarakat.
Festival tersebut nantinya tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga berbagai kegiatan edukatif dan kebudayaan. Mulai dari pertunjukan teater langsung di situs sejarah, pengarsipan cerita para saksi hidup, diskusi publik tentang sejarah dan kemanusiaan, hingga pameran arsip serta foto sejarah.
Tak hanya itu, festival juga akan diramaikan dengan tur edukasi ke bunker dan lokasi pendudukan Jepang serta lokakarya kreatif bagi pemuda dan pelajar di Pulau Buru.
“Jadi masyarakat bukan cuma datang menonton, tetapi ikut terlibat, ikut mendengar, ikut merasakan, dan ikut menjaga ingatan sejarahnya sendiri,” katanya.
Yang membuat festival ini berbeda, lanjut Putri, seluruh pertunjukan akan dilakukan langsung di ruang-ruang bersejarah, bukan di gedung tertutup.
Panggung teater direncanakan hadir di kawasan bunker tua, pesisir pendaratan Jepang, bekas bangunan kolonial, hingga titik-titik yang pernah menjadi saksi perang di Pulau Buru.
“Karena saya percaya, sejarah tidak cukup hanya dibaca. Sejarah juga perlu dialami,” ucapnya.
Putri menjelaskan, festival tersebut juga menjadi ruang dialog untuk membahas isu sejarah, perempuan, perang, kemanusiaan, dan identitas budaya masyarakat Pulau Buru.
Ia menilai memori kolektif masyarakat mulai perlahan hilang seiring bertambahnya usia para saksi hidup sejarah. Karena itu, upaya pengarsipan dan penghidupan kembali cerita sejarah dianggap penting agar tidak hilang ditelan zaman.
“Ketika sebuah masyarakat kehilangan ingatan kolektifnya, mereka perlahan kehilangan identitasnya,” tutur Putri.
Melalui kegiatan itu, Putri berharap generasi muda Pulau Buru dapat kembali mengenal akar sejarah dan budayanya sendiri sekaligus menjadikan ruang sejarah sebagai ruang belajar bersama.
Festival “Suara yang Disembunyikan” pun diharapkan menjadi momentum kebangkitan kesadaran sejarah dan budaya di Pulau Buru melalui pendekatan seni dan keterlibatan masyarakat secara langsung.(TM-03)











