Topik Maluku.com, AMBON– Tim Cegah Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Maluku Densus 88 Antiteror Polri menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi pencegahan paham IRET (Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme) yang digelar di kantor PT PLN (Persero) UPP Maluku, pada Kamis, 26 Juni 2025. Kegiatan ini berlangsung di lantai dua gedung PLN, Jalan Kapten Piere Tandean, Desa Halong, Kecamatan Baguala, Kota Ambon.
Sosialisasi ini dihadiri oleh jajaran pegawai Unit Pelaksana Proyek (UPP) dan Tenaga Alih Daya (TAD) sebanyak 30 orang. Tim Densus 88 yang hadir dipimpin langsung oleh Kasatgaswil Maluku, Kombes Pol I Wayan Sukarena, S.Pd., M.M., beserta delapan personel lainnya.
Dalam sambutannya, perwakilan manajemen PLN UPP Maluku, Abdul Wahid Alkindy, mengapresiasi kehadiran Densus 88 dan menyampaikan pentingnya kerja sama dalam mencegah infiltrasi paham radikal di lingkungan objek vital nasional seperti PLN. Ia menegaskan bahwa perusahaan milik negara sangat rentan menjadi target aksi teror, sehingga pemahaman dan kesiapsiagaan pegawai sangat diperlukan.

Kasatgaswil Maluku, KBP I Wayan Sukarena, menyampaikan materi terkait ancaman nyata intoleransi dan radikalisme, baik secara lokal maupun global. Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan peran aktif seluruh elemen, khususnya di lingkungan BUMN, dalam menangkal penyebaran paham ekstrem.
“Obyek vital nasional seperti PLN harus menjadi garda terdepan dalam memperkuat ketahanan ideologi dan nasionalisme,” ujarnya.
IPTU Irawan Rumasoreng selaku Ketua Tim menambahkan bahwa penyebaran paham radikal kini tak lagi hanya menyasar masyarakat umum, namun juga telah menembus sektor pemerintah, TNI/Polri, hingga BUMN. Ia menguraikan berbagai modus rekrutmen kelompok radikal melalui media sosial, tempat ibadah, lembaga pendidikan, bahkan melalui perkawinan.
“Terorisme adalah proses, dan kelompok ini aktif mencari celah, termasuk memanfaatkan perempuan dan anak sebagai pelaku,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti bahaya penyusupan paham salafi-wahabi radikal serta pemanfaatan media digital untuk menyebarkan propaganda.
Dalam paparannya, Densus 88 juga menampilkan data penindakan, potensi pelaku, serta jaringan kelompok teror yang aktif di Indonesia. Karyawan BUMN, menurut Irawan, perlu dibekali pemahaman yang komprehensif agar tidak terpapar atau bahkan direkrut oleh kelompok radikal.
Kegiatan ini ditutup dengan dialog interaktif antara peserta dan narasumber. Para pegawai PLN menyampaikan berbagai pertanyaan dan antusiasme terhadap upaya pencegahan terorisme yang bersifat partisipatif.
Sosialisasi ini menjadi bagian dari strategi nasional pencegahan terorisme yang mengedepankan edukasi dan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga ideologi Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(TM-03)













