AMBON , Topik Maluku ;Penutupan sejumlah aktivitas tambang pasir atau galian C di Maluku mulai dikeluhkan para sopir angkutan. Mereka mengaku kehilangan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara biaya operasional kendaraan terus berjalan.
Keluhan itu disampaikan dua sopir, La Bonto dan Yohanis Persulessy. Keduanya berharap Pemerintah Provinsi Maluku dapat mencarikan solusi bagi aktivitas tambang yang disebut telah mengurus perizinan namun masih menunggu izin diterbitkan.
La Bonto mengatakan, penutupan tambang membuat para sopir kesulitan mendapatkan penghasilan harian. Padahal, menurut dia, kebutuhan keluarga seperti biaya sekolah anak dan transportasi harus tetap dipenuhi.
“Kalau tambang tutup seperti ini, kami mau mencari di mana lagi? Anak-anak masih sekolah, setiap hari kami butuh biaya,” keluhnya.
Ia juga mengungkapkan persoalan lain yang dihadapi sopir, yakni sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, menurut pengakuannya, sopir harus mengantre sejak pagi hingga siang untuk mendapatkan BBM.
“Kami antre minyak dari jam lima sampai jam satu, baru bisa dapat. Ini juga menjadi kendala bagi kami,” ujarnya.
Menurut La Bonto, pendapatan sopir dari mengangkut material juga tidak selalu besar. Ia mencontohkan, jika dalam sehari hanya memperoleh sekitar dua rit dengan nilai angkutan Rp250 ribu per rit, pendapatan kotor sekitar Rp500 ribu masih harus dipotong untuk BBM, makan, dan kebutuhan operasional lainnya.
“Kalau cuma dapat satu atau dua rit, Rp500 ribu itu untuk beli minyak, makan, dan kebutuhan lainnya. Sekarang kalau tambang ditutup, kami mau ke mana lagi?” katanya.
Senada, Yohanis Persulessy juga meminta pemerintah memperhatikan kondisi para sopir yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pengangkutan material tambang.
Mereka berharap pemerintah tidak hanya melihat persoalan perizinan, tetapi juga mempertimbangkan dampak penutupan terhadap masyarakat yang mencari nafkah dari sektor tersebut.
La Bonto meminta Gubernur Maluku melihat persoalan tersebut secara menyeluruh, terutama terhadap tambang yang disebutnya sedang dalam proses pengurusan izin.
“Kalau memang tambang itu sudah mengurus izin dan masih menunggu izin keluar, kami berharap ada solusi. Kasihan kami para sopir, kami juga punya keluarga yang harus dinafkahi,” ungkapnya.
Ia menegaskan, para sopir tidak bermaksud menentang pemerintah. Mereka hanya berharap ada kepastian dan solusi agar tetap dapat bekerja secara legal untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kami hanya berharap kepada Bapak Gubernur. Kalau ada ucapan kami yang mungkin menyinggung, kami minta maaf. Kami hanya menyampaikan kondisi yang kami alami,” pungkasnya.














