Topik Maluku.com, MALTENG— Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggusur akar tradisi, Komunitas Bacaraita Anak Loupika (BALUPA) Negeri Laimu kembali menegaskan eksistensinya sebagai benteng pertahanan budaya lokal. Sabtu, 5 Juli 2025, komunitas ini menggelar acara pengukuhan dan pelantikan anggota baru jujaro dan mongare — sebutan khas bagi pemuda-pemudi di Laimu — sekaligus menunjuk ketua baru dalam struktur organisasi mereka.
Didirikan sejak 2016, BALUPA tampil konsisten sebagai wadah ekspresi, pendidikan alternatif, sekaligus ruang dialektika lintas generasi di negeri kecil yang sarat sejarah ini. Kegiatan tersebut dihadiri berbagai elemen, mulai dari tokoh masyarakat, aparat kepolisian, hingga perwakilan pemerintah negeri.
Ketua Komunitas BALUPA, Sofia Kumkelo, menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar seremoni tahunan.

“Ini bagian dari proses panjang membangun generasi muda yang sadar akan identitas. Kami ingin tanamkan bahwa pendidikan bukan hanya di kelas. Seni, budaya, dan pengalaman sosial juga sekolah yang penting,” ujarnya.
Ia juga menyinggung ketiadaan dukungan dari Raja Negeri Laimu yang baru, Abdul Kadir Welemuly.
“Hingga hari ini, belum ada dukungan resmi dari pihak raja. Tapi kami tetap jalan. Ini soal komitmen pada jati diri,” tegas Sofia.
Sementara itu, Erwin Mualo, tokoh muda Negeri Laimu, menyampaikan apresiasi tinggi kepada komunitas ini.
“Tidak ada komunitas di Laimu yang sekuat dan sekonsisten BALUPA. Mereka berdiri di atas luka, jalan dalam badai, tapi tetap berdiri tegak,” katanya dalam sambutan yang menggugah.
Hal senada disampaikan Tan R. Hayoto, selaku penasehat komunitas. Ia menilai BALUPA sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya lupa yang kini menggerogoti banyak generasi muda.
“Kita mengalami pergeseran budaya yang tajam. Komunitas ini bukan hanya organisasi, tapi akumulasi kekecewaan dan upaya kolektif menyelamatkan identitas kita,” ujarnya.
Hayoto menutup dengan pernyataan penuh harap,
“Meskipun belum satu pun institusi mendukung kami secara formal, Insyaallah BALUPA akan tetap berdiri, tetap bergerak, dan tetap beristikamah demi masa depan anak-anak Negeri Laimu.”
Dengan semangat yang tak lapuk oleh waktu, BALUPA kini menjadi simbol perlawanan terhadap pelupaan kolektif — menegaskan bahwa di negeri kecil seperti Laimu, sejarah dan budaya masih punya tempat untuk hidup.(TM-03)













