Topik Maluku.com, MALTENG– Konten Kreator di Media Fesbuk yang bernama Musafir Genz dengan nama asli Fatir Restu (27), yang akrab disapa Atin, membagikan kisah perjalanannya menelusuri Pulau Seram hanya dengan berjalan kaki.
Pengalaman itu, ia sampaikan saat bersilaturahmi dengan Anggota DPRD Kabupaten Maluku Tengah Fraksi PKS, Musriadin Labahawa, di Gedung DPRD Maluku Tengah, Rabu (4/2/2026).
Fatir mengaku datang ke Maluku tanpa rencana perjalanan yang matang. Ia memulai perjalanan sebagai pejalan kaki dengan modal sederhana, bahkan tanpa kepastian soal tempat tinggal dan makan. Namun justru dari perjalanan itulah, ia menemukan satu kekuatan besar Maluku yang menurutnya belum sepenuhnya dijual sebagai potensi pariwisata utama, yakni keramahan dan kebersamaan masyarakatnya.
“Saya yakin pariwisata kawasan timur Indonesia, khususnya Maluku, ke depan bisa jauh lebih maju, bahkan berpotensi melampaui Bali dan Lombok. Kuncinya sebenarnya sederhana, hospitality dan pelayanan,” ujar Fatir di hadapan Musriadin.
Menurutnya, di banyak daerah tujuan wisata populer seperti Jawa dan Bali, keramahan kerap dibentuk melalui pelatihan formal. Berbeda dengan Maluku, di mana sikap melayani dan menerima tamu sudah tumbuh secara alami dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Di Maluku, keramahan itu lahir dari hati. Saya datang sebagai orang asing, bahkan hanya berjalan kaki, tapi tetap dilayani dengan sangat baik. Itu menunjukkan bahwa keramahan masyarakat Maluku bukan dibuat-buat,” katanya.
Selama perjalanan sekitar satu bulan, Fatir mengaku telah melintasi Pulau Seram dari wilayah timur hingga Masohi. Ia singgah di banyak desa, menyapa warga, ikut dalam aktivitas keseharian masyarakat, hingga terlibat dalam acara keluarga dan kegiatan sosial.
“Sering kali saya diajak makan, diajak tinggal, bahkan ikut acara keluarga. Di Maluku, melihat tamu atau orang baru itu disambut dengan keterbukaan luar biasa,” tuturnya.
Fatir menilai, ke depan Maluku tidak cukup hanya menjual keindahan alam seperti pantai, gunung, dan laut. Ia menekankan pentingnya menjadikan kebersamaan masyarakat sebagai bagian dari program utama pariwisata.
“Alam Maluku memang indah, tapi yang jauh lebih indah adalah manusianya. Sayang kalau orang datang ke Maluku hanya melihat pantai, tapi tidak merasakan kehangatan masyarakatnya. Pemandangan alam bisa ditemukan di banyak tempat, tapi keramahan seperti di Maluku tidak semua daerah punya,” jelasnya.
Ia juga menceritakan pengalamannya berjalan tanpa rasa takut akan kekurangan selama perjalanan. Dengan uang terbatas, Fatir mengaku tak pernah merasa kelaparan.
“Semua atas izin Allah. Jawabannya ternyata karena keramahan masyarakat Maluku. Allah menggerakkan hati mereka untuk membantu saya,” katanya.
Dalam perjalanan tersebut, Fatir juga menempuh jalur jalan SS yang berkelok, menghubungkan Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Jalur itu ia lintasi dengan santai selama tiga hari dua malam.
Saat ini, Fatir yang berusia 27 tahun dan belum menikah mengaku masih bisa menjalani perjalanan ekstrem semacam itu. Ke depan, ia berencana melanjutkan perjalanan ke Banda dan Kota Ambon untuk melihat peninggalan sejarah sekaligus merasakan suasana Bulan Suci Ramadhan di Maluku.
Sementara itu, Musriadin Labahawa mengaku banyak mendapatkan catatan penting dari cerita perjalanan Fatir. Ia menilai pengalaman tersebut menjadi refleksi tentang perjuangan, konsistensi, dan pengorbanan dalam hidup.
“Tadi banyak diskusi tentang apa yang dilalui Bang Atin. Ini menjadi catatan penting bahwa hidup ini butuh perjuangan dan konsistensi,” ujar Musriadin.
Ia juga menegaskan bahwa Pulau Seram memiliki kekayaan alam dan potensi wisata yang sangat besar. Namun potensi itu, menurutnya, perlu diiringi dengan peran aktif masyarakat dan dukungan serius dari pemerintah daerah.
“Pulau Seram punya segudang pesona alam luar biasa. Tinggal bagaimana masyarakat di tingkat negeri bisa memanfaatkan potensi itu, dan yang lebih penting lagi bagaimana peran pemerintah daerah mengembangkan potensi wisata di wilayah-wilayah ini, khususnya di Kabupaten Maluku Tengah,” tutupnya.
Musriadin pun mengapresiasi kehadiran Fatir di Maluku dan berharap kisah perjalanan tersebut dapat menjadi inspirasi sekaligus masukan bagi pengembangan pariwisata daerah ke depan.(TM-03)















