TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMalukuTopikMalukuTopikMaluku

Mengembalikan Kesakralan Menstruasi sebagai Warisan Perempuan

Oleh: Izmy Syahria Rizky Rery

Topik Maluku.com, OPINI- Saat Rahimku Bicara, Aku Belajar Mendengarkan. Ada masa-masa dalam hidupku ketika menstruasi terasa seperti beban. Sakit perut, emosi yang naik turun, tubuh yang terasa berat semuanya membuatku ingin cepat-cepat melewati hari-hari itu.

Tapi belakangan, aku mulai melihatnya dengan cara yang berbeda. Bukan hanya karena aku mulai membaca lebih banyak tentang tubuh perempuan, tapi juga karena aku mulai benar-benar mendengarkan tubuhku sendiri.

Aku ingat membaca sebuah tulisan berjudul “Ketika Rahimmu Sedang Mengeluarkan Energi yang Tertahan.” Di sana, haid digambarkan bukan sebagai gangguan, tapi sebagai proses sakral sebuah warisan yang mengalir dari perempuan ke perempuan, dari masa lalu ke masa depan.

Kalimat-kalimatnya seperti membuka ruang baru dalam diriku. Aku jadi sadar, selama ini aku terlalu sibuk mengabaikan rahimku. Aku melihatnya hanya sebagai organ biologis, bukan sebagai bagian dari diriku yang menyimpan perasaan, kenangan, bahkan luka-luka batin yang belum sempat sembuh.

Saat haid datang sekarang, aku mencoba memperlambat langkah. Aku menyalakan lilin, menyeduh teh, menulis jurnal, atau sekadar berdiam diri. Bukan karena itu terdengar spiritual atau estetik tapi karena itu membuatku merasa utuh. Aku merasa seperti sedang kembali ke rumah. Rahimku bukan lagi tempat yang “merepotkan”, tapi teman yang mengajarkanku kapan harus melepaskan, kapan harus menerima.

Menstruasi juga membuatku merasa terhubung dengan para perempuan lain
ibuku, nenekku, sahabat-sahabatku, bahkan perempuan-perempuan yang belum pernah aku temui.

Rasanya seperti ada lingkaran tak terlihat yang menyatukan kami semua. Dalam rasa sakit itu, ada kekuatan. Dalam darah itu, ada cerita.
Buatku, melihat haid sebagai proses penyembuhan telah mengubah banyak hal. Aku jadi lebih lembut pada diriku sendiri. Lebih menerima perubahan. Lebih berani menangis kalau memang perlu. Karena seperti yang ditulis dalam surat itu, menjadi perempuan adalah tentang merawat tubuh dan sejarah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Dan setiap kali aku merasa lelah, aku ingat: ini bukan sekadar rasa sakit. Ini adalah tubuhku yang bicara. Dan kali ini, aku memilih untuk mendengarkan.


Follow TOPIKMALUKU.COM untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Chennel
TopikMaluku

Hak Cipta TopikMaluku. Dilindungi undang-undang.

error: Konten Dilindungi !