TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku

KNPI Maluku Inisiasi Dialog Damai, Kembalikan Kampus UIN AMS sebagai Ruang Ilmu

Ambon. Topik Maluku : Kampus yang seharusnya menjadi rumah bagi nalar, dialog, dan pertukaran gagasan kini diuji oleh meningkatnya konflik horizontal antar mahasiswa berlatar identitas kedaerahan. Situasi tersebut memicu keprihatinan banyak pihak terhadap kondisi Universitas Islam Negeri (UIN) A.M. Sangadji Ambon, yang perlahan terancam kehilangan marwahnya sebagai ruang akademik.
Merespons kondisi itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) KNPI Provinsi Maluku bersama sejumlah elemen masyarakat sipil menggagas Dialog Publik Resolusi Konflik Sosial. Kegiatan ini diinisiasi bersama Partai Jomblo Intelektual, Yayasan Pijar Demokrasi Indonesia (YPDI) Cabang Ambon, serta Kejayaan Mahasiswa Nusantara (KEMANUSA) Wilayah Maluku.
Dialog publik ini dirancang sebagai ruang perjumpaan terbuka antara mahasiswa, tokoh pemuda, aparat keamanan, dan unsur kampus. Tujuannya bukan sekadar meredam ketegangan, melainkan membongkar akar konflik secara jujur dan bermartabat, serta membangun kesadaran kolektif akan pentingnya hidup berdampingan di lingkungan akademik.
Ketua DPD KNPI Provinsi Maluku, Arman Kalean, menegaskan bahwa generasi muda Maluku tidak boleh terjebak dalam politik identitas yang sempit dan destruktif.
“Mahasiswa harus keluar dari logika kawan dan lawan. Kampus adalah ruang peradaban, bukan arena konflik. Kita dorong etika baru pergaulan kampus lewat semangat JANDA: Jangan Nakal dan Damai. Ini bukan slogan lucu, tapi sikap politik damai,” tegas Arman.
Dialog tersebut juga menghadirkan AKP Jafar Lessy, Kasat Bimas Polresta Ambon, yang akan memaparkan pendekatan pembinaan serta strategi pencegahan konflik di kalangan mahasiswa. Selain itu, hadir pula Fais Yahya Marasabessy sebagai representasi pemuda dan masyarakat sipil, serta Basir Tuhepaly, Ketua Umum YPDI Cabang Ambon sekaligus penanggung jawab kegiatan.
Menurut Basir, konflik mahasiswa tidak boleh disikapi dengan pembiaran apalagi pendekatan kekuasaan semata.
“Kita membutuhkan keberanian untuk duduk bersama, membuka luka, lalu menyembuhkannya. Kampus tidak boleh mewariskan dendam, tetapi nilai-nilai kebijaksanaan,” ujarnya.
Melalui dialog ini, para penggagas berharap lahir komitmen bersama untuk menghentikan eskalasi konflik, sekaligus mengembalikan UIN A.M. Sangadji Ambon sebagai ruang yang aman, rasional, dan beradab—tempat tumbuhnya generasi muda Maluku yang berpikir jernih dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.(Imel)


Follow TOPIKMALUKU.COM untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Chennel
TopikMaluku
error: Konten Dilindungi !