TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku

Kronologi Dugaan Malapraktik di RSUD Masohi, Warga Masohi Alami Gangguan Pendengaran hingga Harus Operasi ke Makassar

Topik Maluku.com, MALTENG– Seorang warga Kabupaten Maluku Tengah bernama Yasmin Rentua (41) kini harus menanggung derita berkepanjangan usai menjalani tindakan pencabutan gigi di RSUD Masohi pada Oktober 2024 lalu.

Alih-alih sembuh, Yasmin justru mengalami komplikasi serius berupa keluarnya darah dari telinga, gangguan pendengaran, hingga pusing berkepanjangan yang membuatnya harus dirujuk ke RSU Dr. Leimena Ambon dan direkomendasikan menjalani operasi lanjutan di Makassar.

Namun ironisnya, hingga kini pihak RSUD Masohi maupun pejabat terkait di lingkup Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah belum memberikan kejelasan maupun bentuk pertanggungjawaban terhadap kasus yang menimpa ibu satu cucu tersebut.

Kronologi Awal: Cabut Gigi Berujung Petaka

Peristiwa bermula pada Oktober 2024 saat Yasmin Rentua menjalani pencabutan gigi di RSUD Masohi oleh seorang dokter gigi berinisial drg. Melisa. Tindakan tersebut awalnya dianggap sebagai prosedur medis biasa.

Namun tiga hari berselang, kondisi Yasmin berubah drastis. Ia mengalami:

•Keluarnya darah dari telinga

•Penurunan kemampuan pendengaran

•Pusing berulang dan terus-menerus

Merasa ada yang tidak beres, Yasmin kembali menemui dokter yang sama. Ia disarankan untuk menjalani pemeriksaan CT-scan. Akan tetapi, keterbatasan ekonomi membuat Yasmin tidak mampu membiayai pemeriksaan tersebut.

Sejak itu, Yasmin mengaku tidak lagi mendapatkan tindak lanjut medis yang memadai. Tidak ada pendampingan, tidak ada solusi alternatif, bahkan tidak ada kejelasan tanggung jawab dari pihak rumah sakit.

Berpindah dari Satu Instansi ke Instansi Lain

Dalam kondisi kesehatan yang semakin memburuk, Yasmin kemudian berupaya mencari keadilan dan bantuan ke berbagai lembaga, di antaranya:

Dinas Sosial Kabupaten Maluku Tengah

•Komisi IV DPRD Kabupaten Maluku Tengah

•Manajemen RSUD Masohi (berulang kali)

•Bupati Maluku Tengah – namun hanya bertemu ajudan tanpa solusi

•Wakil Bupati Maluku Tengah – tanpa penyelesaian

•Anggota DPRD Maluku Tengah, Rudi Lailosa – tanpa hasil konkret

Sayangnya, seluruh upaya tersebut berujung buntu. Tidak ada kepastian, tidak ada jaminan pengobatan lanjutan, dan tidak ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab.

Kondisi Medis Kian Memburuk

Seiring waktu, kondisi Yasmin semakin parah. Ia kini menderita:

•Gangguan pendengaran serius

•Sakit kepala kronis
•Sulit tidur akibat nyeri berkepanjangan

Ia akhirnya memeriksakan diri ke dokter spesialis THT di Masohi dan dirujuk ke RSU Dr. Leimena Ambon. Demi memenuhi biaya rujukan, Yasmin terpaksa meminjam uang dari koperasi.

Hasil pemeriksaan di RSU Dr. Leimena menyatakan bahwa Yasmin harus menjalani tindakan operasi lanjutan di Makassar. Namun, rekomendasi tersebut kembali menjadi beban berat karena keterbatasan ekonomi yang dialaminya.

Terjepit Masalah Sosial dan Ekonomi

Tak hanya terpuruk secara kesehatan, Yasmin juga berada dalam kondisi sosial yang memprihatinkan:

•Tinggal di kos milik Bapa Keteng Badu, di depan SD Negeri 7 Masohi

•Menunggak biaya kos selama 2 bulan

•Masih memiliki tunggakan kos sebelumnya selama 8 bulan di wilayah Lesane

•Hidup bersama seorang cucu perempuan berusia 2,5 tahun

•Tidak memiliki penghasilan tetap

Dengan kondisi seperti ini, harapan untuk berobat ke Makassar nyaris mustahil tanpa adanya bantuan dari pemerintah atau pihak terkait.

Kembali Datangi RSUD, Tetap Tanpa Kepastian

Pada 5 dan 6 Januari 2025, Yasmin kembali mendatangi RSUD Masohi untuk meminta pertanggungjawaban secara langsung kepada manajemen rumah sakit. Namun, ia kembali pulang dengan tangan hampa. Direktur RSUD tidak berhasil ditemui, dan lagi-lagi tidak ada kejelasan solusi.

Mengadu ke Aktivis sebagai Upaya Terakhir

Kini, Yasmin Rentua berada dalam kondisi terkatung-katung sakit secara fisik, terpuruk secara ekonomi, dan diabaikan secara birokrasi.

Setelah pintu demi pintu tertutup, ia akhirnya mengadukan kasus ini kepada para aktivis di Masohi sebagai ikhtiar terakhir demi mendapatkan perlindungan atas hak kesehatan, keadilan, dan kemanusiaan.

Kasus Yasmin menjadi potret buram pelayanan kesehatan daerah, sekaligus tamparan keras bagi pemerintah dan institusi kesehatan agar tidak menutup mata terhadap jeritan rakyat kecil yang mencari kesembuhan, namun justru terjebak dalam penderitaan tanpa ujung.(TM-03)


Follow TOPIKMALUKU.COM untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Chennel
TopikMaluku
error: Konten Dilindungi !