TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku

Raja Yamalatu Kutuk Keras Operasi Tambang CV Batu Seram Jaya, Dinilai Picu Abrasi Parah

Oplus_131072

Topik Maluku.com, MALTENG – Raja Negeri Yamalatu Albert Halamurry, Kecamatan Telutih, Kabupaten Maluku Tengah, mengutuk keras aktivitas operasi tambang yang dilakukan CV Batu Seram Jaya. Perusahaan tersebut diketahui bergerak di bidang pengolahan pasir dan batu kerikil (batu pecah) yang beroperasi di wilayah pesisir JT Laha.

Saat ditemui wartawan pada Kamis (18/12/25), Raja Negeri Yamalatu Albert Halamurry, menegaskan harapannya agar aktivitas pemuatan material oleh perusahaan tersebut segera dihentikan. Menurutnya, operasi tambang yang terus berlangsung telah memicu abrasi pantai yang semakin parah dan mengancam wilayah pesisir negeri.

“Harapan kami, kalau bisa perusahaan hentikan pemuatan di JT Laha. Karena kalau pemuatan ini terus berlangsung, pada saatnya nanti abrasi akan menimbulkan efek yang lebih parah,” ujar Raja Yamalatu.

Ia menjelaskan, aktivitas pemuatan material oleh CV Batu Seram Jaya telah berlangsung cukup lama. Jika tidak keliru, operasi tersebut sudah berjalan sekitar empat hingga lima tahun terakhir. Selama kurun waktu itu, dampak abrasi semakin terasa oleh masyarakat.

“Kalau tidak salah, pemuatannya sudah sekitar empat sampai lima tahun,” katanya.

Raja Yamalatu juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada koordinasi serius dari pihak perusahaan untuk melakukan penanganan abrasi secara menyeluruh. Upaya perbaikan yang dilakukan dinilai tidak maksimal karena hanya bersifat sementara.

“Sejauh ini hanya bronjong. Tapi jangkauannya tidak panjang, dan kondisi di sini kalau hanya ditimbun batu kecil-kecil pasti bobol,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat memasuki musim angin timur, gelombang laut di kawasan tersebut sangat besar. Akibatnya, talut penahan pantai hampir setiap tahun mengalami kerusakan dan roboh secara bertahap.

“Kalau cuaca timur, ombaknya sangat besar. Talut ini jatuh hampir setiap tahun, mulai dari ujung sana lalu patah terus setiap tahun selama pemuatan itu berlangsung,” ungkapnya.

Tak hanya merusak infrastruktur, abrasi juga menyebabkan kerugian besar bagi warga pesisir. Sekitar 70 pohon kelapa milik masyarakat yang berada di sepanjang pantai dilaporkan telah roboh akibat terjangan abrasi.

“Kelapa-kelapa masyarakat di pantai sudah kurang lebih 70 pohon lebih semuanya roboh,” katanya.

Raja Yamalatu mengakui bahwa pihak perusahaan sempat memberikan ganti rugi atas kerusakan yang terjadi. Namun, abrasi hingga kini masih terus berlangsung dan kembali merugikan masyarakat.

“Sekarang masih abrasi terus. Kelapa-kelapa ini masih roboh. Jadi harapan kami, perusahaan tidak boleh lagi melaksanakan aktivitas pemuatan di JT Laha,” tegasnya.

Ia menambahkan, selain penghentian aktivitas tambang, segala bentuk kerugian yang telah dan masih dialami masyarakat harus diganti secara layak oleh pihak perusahaan.

“Segala kerugian yang ada ini minimal harus diganti,” pungkasnya.(TM-03)


Follow TOPIKMALUKU.COM untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Chennel
TopikMaluku
error: Konten Dilindungi !