Topik Maluku.com, AMBON– Menyambut kunjungan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka ke Provinsi Maluku, Forum Mahasiswa Maluku Tengah (FORMA Malteng) melayangkan desakan keras agar pemerintah pusat mengevaluasi kinerja Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku. Mereka menilai BWS abai dan tidak bertanggung jawab terhadap kerusakan Sabo Dam dan Jembatan Kawa Nuwa di Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah.
Kabid Hukum dan Advokasi FORMA Malteng, Subhan Namakule, S.H, menyebut BWS Maluku telah ingkar janji dan lamban menangani kerusakan infrastruktur vital di wilayah Tehoru yang membahayakan keselamatan warga.
“BWS Maluku tidak bisa berlindung di balik alasan keterbatasan anggaran pemeliharaan. Infrastruktur itu dibangun dengan uang rakyat, jadi wajib dipertanggungjawabkan untuk keselamatan rakyat,” Subhan kepada wartawan, Senin (13/10/2025).
Subhan mengungkapkan, pada pertemuan 23 September 2025, perwakilan Satker III BWS Maluku, Yandri, berjanji akan menindaklanjuti laporan mahasiswa dan meninjau kondisi Sabo Dam Kawa Nuwa dalam waktu 14 hari. Namun hingga batas waktu yang telah disepakati—tepat pada 10 Oktober 2025—tidak ada satu pun langkah konkret dilakukan.
“Sudah lewat 14 hari, tapi nihil tindakan. Ini bentuk pengingkaran janji dan menunjukkan BWS Maluku tidak serius terhadap keselamatan masyarakat Tehoru,” kritik Subhan.
Bukan hanya itu, ada juga ancaman aksi di Kantor BWS Maluku. FORMA Malteng menilai sikap diam BWS Maluku sebagai bentuk pembiaran terhadap kerusakan fasilitas publik yang dibiayai negara. Mereka menuntut Kepala BWS Maluku segera turun ke lokasi dan memberikan laporan terbuka kepada warga Tehoru.
“Kami beri waktu tiga hari. Kalau tetap tidak jelas, FORMA Malteng akan gelar aksi besar-besaran di Kantor BWS Maluku. Ini bukan ancaman kosong, tapi pertanggungjawaban moral,” tegas Subhan.
Adapun Sabo Dam Kawa Nuwa dibangun pada 2017 dengan anggaran miliaran rupiah. Namun sejak diresmikan, proyek itu diduga tidak pernah mendapatkan pemeliharaan. Akibatnya, sabo dam rusak parah setelah tertimbun pasir, batu, dan batang pohon yang terbawa banjir pada 2024. Kerusakan itu turut menghantam Jembatan Kawa Nuwa hingga memutus akses utama masyarakat Tehoru.
FORMA Malteng menegaskan akan terus mengawal persoalan ini sampai pemerintah bertindak.
“Kami tidak akan berhenti sampai ada perbaikan nyata. Negara tidak boleh kalah dari kelalaian birokrasi,” tutup Subhan.(TM-03)















