TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku

Kawasan Inamosol dalam Genggaman “Orang Tua Tiri”

Topik Maluku.com, AMBON— Istilah “orang tua tiri” kerap hadir dalam cerita rakyat sebagai simbol ketidakadilan—antara kasih sayang yang setengah hati dan pengabaian yang menyakitkan.

Dalam konteks pembangunan wilayah, istilah ini terasa relevan ketika menggambarkan nasib daerah-daerah yang terpinggirkan dari pusat kekuasaan dan pelayanan publik.

Kecamatan Inamosol di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) menjadi potret nyata dari fenomena itu. Terletak jauh dari poros utama pemerintahan, kawasan ini seakan menjadi “anak tiri” dalam rumah besar bernama Maluku. Fasilitas publik terbatas, akses infrastruktur minim, dan tantangan lingkungan tak kunjung teratasi.

Keterjebakan Wilayah Nodal

Secara teori geografi regional, Inamosol berada diluar lingkaran wilayah nodal—area yang terhubung secara fungsional ke pusat pelayanan di ibu kota kabupaten. Ketidak hubungan itulah yang membuat ketimpang antar wilayah.

Wilayah ini hanya menerima sebagian kecil aliran manfaat dari pusat, sementara masalah-masalah lokal seperti banjir bandang dari Sungai Wae Tuba yang membentang 10–12 kilometer dibiarkan berulang. Kawasan Kairatu–Honitetu pun tetap berstatus rawan bencana setiap musim hujan.

Ketergantungan terhadap “pivot area” atau jantung pelayanan publik membuat pembangunan di Inamosol tidak berjalan berimbang. Aktivitas sosial dan ekonomi warga terhambat, sementara konektivitas ke wilayah lain tidak berkembang signifikan.

Harapan yang Tak Boleh Ditinggalkan

Menjelang delapan dekade kemerdekaan, perjalanan Indonesia sebagai negara seharusnya memuat prinsip pemerataan.

Pemerintah Kabupaten SBB dan Pemerintah Provinsi Maluku diharapkan mengambil langkah nyata, membangun akses jalan yang memadai, memperkuat tanggul sungai, menyediakan fasilitas publik yang merata, dan menghapus stigma bahwa wilayah terpencil tak layak mendapat prioritas.

“Pemerintah harus berlaku layaknya orang tua yang adil. Semua anak—baik yang dekat maupun jauh—berhak atas kasih sayang yang sama,” kata seorang Pengamat Geografi, sosial dan politik kepada TopikMaluku.com, Fekry Salim Hehanussa. Sabtu (9/8/25).

Jika tidak, Inamosol akan terus berada di bawah bayang-bayang “orang tua tiri” yang hanya mengingat namanya di musim politik, namun lupa ketika musim bencana datang.(TM-03)


Follow TOPIKMALUKU.COM untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Chennel
TopikMaluku
error: Konten Dilindungi !