TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku

Menjaga Kesehatan Pasca Idul Qurban

Oleh: A. Miftahul Khair Imran, S.Kep., Ns., M.Kep

Idul Qurban merupakan momen sakral bagi umat Islam yang sarat nilai spiritual dan sosial.

Melalui ibadah qurban, umat diajak meneladani ketulusan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Namun, di tengah suasana suka cita tersebut, ada satu aspek yang sering kali terabaikan, yakni aspek kesehatan. Konsumsi daging yang meningkat drastis selama dan sesudah Idul Adha dapat memicu lonjakan kadar kolesterol jika tidak diimbangi dengan pola makan yang sehat dan seimbang. Di sinilah prinsip kesadaran dan moderasi perlu diaktualisasikan sebagai panduan untuk menyeimbangkan antara nilai ibadah dan gaya hidup sehat.

Daging kambing dan sapi memang memiliki kandungan protein dan zat besi yang tinggi. Akan tetapi, konsumsi berlebihan terutama pada bagian daging yang berlemak dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dalam darah.

Tidak sedikit masyarakat menyantap olahan daging secara berulang tanpa memperhatikan kandungan lemak dan dampaknya terhadap kesehatan.

Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (2024), kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama penyakit jantung dan stroke. World Health Organization (2022) juga menegaskan bahwa pola konsumsi tinggi lemak jenuh secara konsisten dapat memperburuk kondisi metabolik dan kardiovaskular.

Maka dari itu, perlu adanya kesadaran individu untuk mengontrol konsumsi hidangan qurban agar tidak menjadi ancaman kesehatan yang tersembunyi.

Mengonsumsi daging sapi dan kambing dalam jumlah berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan.

Daging merah, termasuk sapi dan kambing, mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, hipertensi, dan stroke.

Selain itu, konsumsi berlebihan juga dapat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker usus besar, karena proses pemasakan pada suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa karsinogenik seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina heterosiklik (HCA) .

American Heart Association (2022) merekomendasikan pemilihan daging tanpa lemak dan penggunaan teknik memasak yang sehat, seperti merebus, memanggang, atau membakar tanpa minyak berlebih.

Selanjutnya, Harvard T. H. Chan School of Public Health (2023) menganjurkan untuk mengimbangi konsumsi daging dengan sayuran dan buah-buahan segar, guna meningkatkan asupan serat yang membantu menurunkan kadar kolesterol.

Pola makan seperti ini bukan hanya mencerminkan prinsip hidup sehat, tetapi juga selaras dengan nilai kesederhanaan, serta wujud tanggung jawab atas tubuh sebagai amanah dari Allah SWT.

Dr. Andi Pramudya, SpJP (spesialis Jantung dan Pembuluh Darah) berpendapat “Mengonsumsi daging merah dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida dalam darah, yang berisiko memicu hipertensi dan penyakit jantung.

Oleh karena itu, penting untuk segera mengimbangi dengan konsumsi makanan kaya serat seperti sayuran dan buah-buahan, serta biji-bijian utuh. Serat membantu mengikat kolesterol di usus dan mencegah penyerapan berlebih ke dalam darah.”

Sama halnya dengan pendapat ahli gizi klinis Dr. Lestari Wulandari, mengungkapkan bahwa “Setelah mengonsumsi daging merah dalam jumlah banyak, penting untuk meningkatkan aktivitas fisik. Olahraga ringan seperti berjalan kaki selama 30 menit dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah. Selain itu, pastikan untuk menjaga hidrasi tubuh dengan cukup minum air putih.”

Selain jenis dan cara mengolah daging, penting pula membatasi penggunaan santan, minyak berlebih, dan jeroan dalam berbagai hidangan Idul Qurban. Data dari Ciputra Life dan RRI menyebutkan bahwa risiko kolesterol tinggi cenderung meningkat setelah Idul Adha, terutama bila masyarakat tidak mengontrol pola konsumsi daging secara sadar (RRI, 2023; Ciputra Life, 2023).

Kementerian Kesehatan RI (2023) juga menegaskan pentingnya menghindari gaya makan berlebihan dan menjaga keseimbangan nutrisi sebagai bagian dari pencegahan penyakit. Oleh karena itu, praktik qurban tidak hanya perlu dimaknai secara spiritual, tetapi juga harus disertai kesadaran terhadap kesehatan diri dan dampaknya bagi lingkungan sosial.

Pada akhirnya, penerapan prinsip keseimbangan dalam ibadah dan konsumsi daging qurban menjadi kunci untuk merayakan Idul Adha secara utuh baik secara spiritual maupun jasmani. Moderasi dalam makan bukanlah pengurangan nilai ibadah, melainkan bentuk nyata tanggung jawab diri yang menambah kesempurnaan ibadah itu sendiri. Spirit qurban sejatinya adalah tentang pengorbanan dan pengendalian diri, nilai-nilai yang sangat relevan dalam menjaga kesehatan tubuh. Maka, merayakan Idul Qurban dapat dijadikan ruang untuk membentuk keseimbangan ibadah dan kesehatan yang membentuk kesalehan batin dan keseimbangan kesehatan jasmani.


Follow TOPIKMALUKU.COM untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Chennel
TopikMaluku
error: Konten Dilindungi !