TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku
TopikMaluku

Kasih di Hari Kurban: GPM dan Al Fatah Menyulam Persaudaraan Maluku

Topik Maluku.com, AMBON— Pagi itu, langit Ambon belum sepenuhnya cerah. Namun, di halaman Masjid Raya Al Fatah, suasana terasa hangat. Seekor sapi kurban berdiri tenang di antara senyum-senyum yang tak dibuat-buat. Di antara mereka ada Pendeta Lenny Bakarbessy, Wakil Ketua I Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), dan Ustad H. Hadi Basalamah, Ketua Yayasan Al Fatah Ambon. Di tangan sang pendeta, secarik dokumen penyerahan, dan di hatinya, niat yang tak sekadar simbolik.

Ini bukan pertama kalinya GPM menyerahkan hewan kurban kepada umat Muslim jelang Iduladha. Namun, dalam lanskap sosial-politik yang kerap retak oleh isu intoleransi, gestur ini menjadi lebih dari sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah pesan: bahwa persaudaraan di Maluku bukan slogan, melainkan tindakan.

“Ini bagian dari komitmen kami untuk terus merawat hubungan persaudaraan yang dilandasi kasih,” ujar Pendeta Lenny dalam sambutannya. Ia tidak berdiri di mimbar gereja, melainkan di tanah netral: halaman masjid, ruang yang menjadi saksi kerukunan dua iman.

Ustad Hadi menyambut dengan kata-kata yang nyaris serupa: “GPM bukan baru kali ini hadir. Setiap tahun mereka datang, dan kami menyambut dengan tulus.” Kalimat yang sederhana, namun sarat makna di bumi yang pernah terluka oleh konflik agama.

Di belakang mereka, berdiri Bodewin Wattimena, Ketua Panitia Hari Besar Gerejawi GPM. Ia menyebut kurban ini sebagai wujud kasih Kristus yang menjelma dalam solidaritas sosial—sebuah pernyataan teologis sekaligus praksis sosial yang menolak dikotomi iman dan kemanusiaan.

Tahun 1999, Ambon pernah membara oleh bara sektarian. Dua dekade kemudian, jejak itu masih ada, tapi tidak dominan. Yang lebih kentara justru adalah upaya-upaya seperti ini—diam-diam, tetapi berarti. Sapi-sapi kurban, simbol keikhlasan umat Islam, diserahkan oleh gereja sebagai bagian dari cinta kasih lintas batas.

“Selamat merayakan Iduladha 1446 H,” tutup pernyataan resmi MPH GPM. “Kiranya berkat dan damai sejahtera menyertai seluruh saudara-saudara Muslim di mana pun berada.”

Mungkin, di tempat lain, berita ini akan lewat begitu saja. Tapi di Maluku, ini lebih dari sekadar serah-terima. Ini adalah tanda: bahwa luka masa lalu tidak harus menjadi warisan masa depan. (TM-03)


Follow TOPIKMALUKU.COM untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Chennel
TopikMaluku
error: Konten Dilindungi !