Topik Maluku.com, MALTENG– Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, menegaskan bahwa Masohi bukan sekadar nama kota, tetapi simbol dari semangat kebersamaan dan gotong royong yang telah diwariskan oleh para leluhur. Hal itu disampaikannya dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-68 Kota Masohi, Senin (3/11/2025). Malam Di pelabuhan Ina- Marina Kota Masohi.
“Budaya kita, Masohi, melambangkan perbedaan yang disatukan. Masohi adalah keanekaragaman yang bersatu. Misalnya, kalau ada saudara kita yang membangun rumah, maka kita harus masohi, harus gotong royong,” ujar Zulkarnain dalam sambutannya.
Menurutnya, filosofi Masohi tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang saling membantu tanpa memandang latar belakang. “Ada yang menyiapkan tulangnya, ada yang mencampur semen dan pasir, semuanya bergotong royong. Seluruh perbedaan itu kita gabungkan dan itulah yang dinamai Masohi,” tambahnya.
Bupati Zulkarnain juga menyoroti bahwa Kota Masohi adalah cerminan dari Indonesia dalam bentuk kecil, karena di dalamnya hidup berbagai suku, agama, dan budaya secara harmonis. “Hari ini wajah Masohi dihuni oleh berbagai agama, berbagai suku, berbagai perbedaan. Itulah cita-cita leluhur kita, para pendiri kota ini. Kita bersyukur kota ini dinamai Masohi,” katanya.
Lebih lanjut, Zulkarnain menyinggung sejarah panjang Kota Masohi yang pernah dikunjungi Presiden Soekarno sebanyak dua kali. Ia menyebut, kunjungan itu bukan tanpa alasan, melainkan karena Bung Karno melihat potensi besar yang dimiliki kota ini.
“Menarik apa yang disampaikan para pemateri tadi, bahwa Presiden Soekarno tercatat dua kali menginjakkan kakinya di bumi Masohi. Pertanyaannya, apa yang membuat presiden pertama negara kepulauan nan besar ini rela menempuh perjalanan jauh hampir dua ribu lima ratus kilometer?” ungkapnya.
Menurut Zulkarnain, membicarakan sejarah Masohi berarti membicarakan lebih dari sekadar sejarah Maluku Tengah. “Bicara tentang sejarah Masohi berarti bicara tentang sejarah Maluku, sejarah Indonesia, bahkan sejarah dunia, lebih tepatnya sejarah kedaulatan Asia-Afrika,” tegasnya.
Ia menutup sambutannya dengan refleksi bahwa Presiden Soekarno memiliki rencana besar terhadap Masohi, termasuk perannya dalam perjuangan operasi pembebasan Irian Barat. “Putra Sang Fajar punya rencana besar untuk Masohi, bukan hanya dalam konteks pembangunan daerah, tetapi dalam semangat kebangsaan dan kedaulatan bangsa,” pungkasnya.
Acara tersebut dihadiri jajaran Forkopimda, tokoh masyarakat, dan ratusan warga yang memadati lokasi kegiatan. Suasana peringatan HUT ke-68 Kota Masohi berlangsung khidmat dan penuh makna, mengingatkan kembali akan nilai luhur Masohi sebagai lambang persatuan di tengah keberagaman.(TM-03)















